Jumat, Mei 08, 2015

PERKEMBANGAN UMAT KATHOLIK STASI NGALIYAN

SEJARAH PERKEMBANGAN UMAT KATHOLIK DI STASI NGALIYAN PAROKI SANTO ISIDORUS SUKOREJO
KECAMATAN BEJEN, KABUPATEN TEMANGGUNG

            Gereja Ngaliyan adalah gereja yang berdiri dengan lika – liku kehidupan umat Ngaliyan. Kehidupan yang mendukung dalam bertoleransi merupakan unsur penting dalam membangun sebuah kerukunan dan ketentraman dalam masyarakat yang multikultural. Keberagaman yang ada merupakan hal penting untuk disepakati bersama bahwa perbedaan itu seharusnya membuat keakraban diantara umat. Nah, pengantar tersebut sama halnya keberagaman yang ada di umat Ngaliyan.
A.       Berdirinya Umat Katolik Ngaliyan
Pada mulanya, masyarakat  Ngaliyan yang sekarang dimasukkan kedalam Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung ini, adalah masyarakat  yang kesemuanya berkepercayaan Muslim. Namun, sekitar  tahun 1967, ada dua orang tokoh yang bernama (alm)Ruslan Kocoatmojo, dan adiknya, Bapak Suwarlan (dosen UGM), mereka adalah pengajar agama Katolik dan mulai mewartakan agama Katolik setelah memperoleh izin dari Rm. Keneks, SJ.
Sebelum mereka mewartakan agama Katolik, terlebih dahulu mereka mendatangi Pastur Kepala Paroki Sukorejo yaitu Romo Keneks dari Jerman untuk berdiskusi dan meminta supaya umat Ngaliyan diberi pelajaran tentang agama Katolik. Permohonan mereka akhirnya diterima oleh Romo Keneks.

Di lain hari, datanglah Rm. Keneks ke Ngaliyan yang diantar oleh Pak Ruslan. Rm. Keneks lalu diantar kerumah Pak Ruslan yang rumahnya sudah ada calon dari pemegang ajaran Katolik pertama yang berjumlah 15 KK. Setelah beberapa lamanya, Pak Ruslan yang sudah mumpuni dalam pengajaran ajaran Katolik, akhirnya diberi tanggung jawab oleh Rm. Keneks untuk mengajarkan kembali terhadap ilmu yang sudah diserap kepada para calon pemegang agama Katolik. Semakin banyak hari yang dilewati, para calon semakin bertambah banyak yang mengharuskan Rm. Keneks mengundang katekis dari Muntilan yaitu Bernardus Sastro Diharjo untuk berkunjung dan berkeliling untuk  mengajarkan agama Katolik.
Setelah dirasa kemampuan para calon sudah mencukupi, saatnya para calon pemegang ajaran Kristus ini menjadi calon babtis. Pembabtisan diadakan pada tahun 1969, tepatnya pada tanggal 11 September 1969 yang merupakan baptisan pertama bagi umat di gereja Ngaliyan. Pada saat itu, belum ada gereja di Ngaliyan, namun, pembatisan diadakan di rumah Pak Semito Sadiman. Setelah adanya pembatisan tersebut,  banyak umat yang tertarik untuk mengikuti ajaran Kristus ini.

A.       Para Pekerja Tuhan
Tuaian memang banyak, tetapi sedikit pekerjannya.  Hal itu mungkin ada dalam pikiran Rm. Keneks, sehingga sekitar ± 5 tahun kemudian, Rm. Keneks mendatangkan teman – temannya dari negara Jerman, Italia, dan Inggris (sebelum semua gereja di Inggris masuk ke dalam Revolusi Gereja Calvinis) untuk berkarya di Paroki Sukorejo, khususnya di Ngaliyan.
Akhirnya karya Rm. Keneks sudah selesai. Dan ini adalah permulaan dalam membangun umat Katolik di Ngaliyan, dan bukan sebuah tujuan akhir. Ia dipindahtugaskan ke wilayah lain untuk membangun lagi umat Kristus. Selanjutnya, generasi penerusnya untuk melanjutkan karya darinya.
Penerus dari Rm. Keneks adalah :
1.      Rm. Prajasuta, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun
2.    Rm. Ismartono, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia adalah pendiri dari sebuah asrama untuk anak tingkat sekolah menengah di Paroki Sukorejo, yang sekarang bernama Asrama Manik Hargo yang berarti mutiara dari gunung
3.      Rm. Soma, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 3 tahun
4.    Rm. Windiatmoko, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Beliau adalah romo yang peduli dengan lingkungan di Desa Ngaliyan. Ia mengajukan rancangan dan memberi andil dalam membangun  jalan lingkar (aspal), balai desa, dan kantor desa di Desa Ngaliyan. Selain itu, ia juga mendirikan pasturan di gereja Ngaliyan serta susteran di gereja paroki. Membangun saluran air  dari Kali Guci, Dusun Bongkol yang diarahkan ke gereja Ngaliyan. Membangun kapel yang masih sederhana di Lingkungan Gemuh, Pilangsari, Krandegan, dan Ngampel.
5.   dibagian ini tidak diketahui karena karyanya yang singkat dan banyak pastur yang berganti – gantian selama bertahun – tahun
6.    Rm. Roni Nurhayanto, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia mulai membangun dan menata kembali komplek gereja paroki. Bersama Br. Priarso yang tinggal di gereja Ngaliyan, ia mendirikan bangunan bangsal yang disebut Bangsal Sukoreno dan ruang untuk berkumpul.
7.     Rm. Drajat Susilo, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia Meneruskan kembali dalam membangun dan menata kembali komplek gereja paroki serta gereja Ngaliyan dan gereja lingkungan lainnya.
8.  Rm. Agung, SJ. Pastur kepala yang berkarya di tahun 2015 ini. Ia juga meneruskan kembali pembangunan sebelumnya. Ia di bantu Rm. Padmo, SJ yang berkarya di Stasi Ngaliyan
Dari para pastur diatas, merupakan para Pastur Kepala Paroki Sukorejo yang disebut dengan Pastur Pembangunan.


Dari cerita sejarah Gereja Katolik Ngaliyan tersebut yang panjang lebar, (pasti bosen mbacanya... hahaha, gk jga tuh jika mau tau sejarahnya), ada lanjutannya lagi tuh.... dengan judul Rm. Keneks, SJ dan Pengalaman Spiritualnya... supaya gak penasaran dibuatnya, silahkan baca di blog selanjutnya....

TABERNAKEL







Tidak ada komentar:

Posting Komentar