SEJARAH PERKEMBANGAN UMAT KATHOLIK DI STASI NGALIYAN
PAROKI SANTO ISIDORUS SUKOREJO
KECAMATAN BEJEN, KABUPATEN TEMANGGUNG
Gereja Ngaliyan adalah gereja yang berdiri dengan lika – liku kehidupan
umat Ngaliyan. Kehidupan yang mendukung dalam bertoleransi merupakan unsur
penting dalam membangun sebuah kerukunan dan ketentraman dalam masyarakat yang
multikultural. Keberagaman yang ada merupakan hal penting untuk disepakati
bersama bahwa perbedaan itu seharusnya membuat keakraban diantara umat. Nah,
pengantar tersebut sama halnya keberagaman yang ada di umat Ngaliyan.
A.
Berdirinya Umat Katolik Ngaliyan
Pada mulanya,
masyarakat Ngaliyan yang sekarang
dimasukkan kedalam Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung ini, adalah
masyarakat yang kesemuanya
berkepercayaan Muslim. Namun, sekitar
tahun 1967, ada dua orang tokoh yang bernama (alm)Ruslan Kocoatmojo, dan
adiknya, Bapak Suwarlan (dosen UGM), mereka
adalah pengajar agama Katolik dan mulai mewartakan agama Katolik setelah
memperoleh izin dari Rm. Keneks, SJ.
Sebelum
mereka mewartakan agama Katolik, terlebih dahulu mereka mendatangi Pastur Kepala
Paroki Sukorejo yaitu Romo Keneks dari Jerman untuk berdiskusi dan meminta supaya
umat Ngaliyan diberi pelajaran tentang agama Katolik. Permohonan mereka
akhirnya diterima oleh Romo Keneks.
Di lain hari, datanglah
Rm. Keneks ke Ngaliyan yang diantar oleh Pak Ruslan. Rm. Keneks lalu diantar
kerumah Pak Ruslan yang rumahnya sudah ada calon dari pemegang ajaran Katolik
pertama yang berjumlah 15 KK. Setelah beberapa lamanya, Pak Ruslan yang sudah
mumpuni dalam pengajaran ajaran Katolik, akhirnya diberi tanggung jawab oleh
Rm. Keneks untuk mengajarkan kembali terhadap ilmu yang sudah diserap kepada
para calon pemegang agama Katolik. Semakin banyak hari yang dilewati, para
calon semakin bertambah banyak yang mengharuskan Rm. Keneks mengundang katekis
dari Muntilan yaitu Bernardus Sastro Diharjo untuk berkunjung dan berkeliling
untuk mengajarkan agama Katolik.
Setelah dirasa kemampuan
para calon sudah mencukupi, saatnya para calon pemegang ajaran Kristus ini
menjadi calon babtis. Pembabtisan diadakan pada tahun 1969, tepatnya pada
tanggal 11 September 1969 yang merupakan baptisan pertama bagi umat di gereja
Ngaliyan. Pada saat itu, belum ada gereja di Ngaliyan, namun, pembatisan
diadakan di rumah Pak Semito Sadiman. Setelah adanya pembatisan tersebut, banyak umat yang tertarik untuk mengikuti
ajaran Kristus ini.
A.
Para Pekerja Tuhan
Tuaian memang banyak, tetapi sedikit pekerjannya. Hal itu mungkin ada dalam pikiran Rm. Keneks,
sehingga sekitar ± 5 tahun kemudian, Rm. Keneks
mendatangkan teman – temannya dari negara Jerman, Italia, dan Inggris (sebelum semua gereja di Inggris masuk ke
dalam Revolusi Gereja Calvinis) untuk berkarya di Paroki Sukorejo,
khususnya di Ngaliyan.
Akhirnya karya Rm. Keneks
sudah selesai. Dan ini adalah permulaan dalam membangun umat Katolik di
Ngaliyan, dan bukan sebuah tujuan akhir. Ia dipindahtugaskan ke wilayah lain
untuk membangun lagi umat Kristus. Selanjutnya, generasi penerusnya untuk
melanjutkan karya darinya.
Penerus dari
Rm. Keneks adalah :
1.
Rm.
Prajasuta, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun
2. Rm.
Ismartono, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia adalah
pendiri dari sebuah asrama untuk anak tingkat sekolah menengah di Paroki
Sukorejo, yang sekarang bernama Asrama Manik Hargo yang berarti mutiara dari
gunung
3.
Rm.
Soma, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 3 tahun
4. Rm.
Windiatmoko, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Beliau adalah
romo yang peduli dengan lingkungan di Desa Ngaliyan. Ia mengajukan rancangan
dan memberi andil dalam membangun jalan
lingkar (aspal), balai desa, dan kantor desa di Desa Ngaliyan. Selain itu, ia
juga mendirikan pasturan di gereja Ngaliyan serta susteran di gereja paroki.
Membangun saluran air dari Kali Guci,
Dusun Bongkol yang diarahkan ke gereja Ngaliyan. Membangun kapel yang masih
sederhana di Lingkungan Gemuh, Pilangsari, Krandegan, dan Ngampel.
5. dibagian ini tidak diketahui karena
karyanya yang singkat dan banyak pastur yang berganti – gantian selama bertahun
– tahun
6. Rm.
Roni Nurhayanto, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia mulai
membangun dan menata kembali komplek gereja paroki. Bersama Br. Priarso yang
tinggal di gereja Ngaliyan, ia mendirikan bangunan bangsal yang disebut Bangsal
Sukoreno dan ruang untuk berkumpul.
7. Rm.
Drajat Susilo, SJ yang berkarya di paroki Sukorejo selama 5 tahun. Ia
Meneruskan kembali dalam membangun dan menata kembali komplek gereja paroki
serta gereja Ngaliyan dan gereja lingkungan lainnya.
8. Rm.
Agung, SJ. Pastur kepala yang berkarya di tahun 2015 ini. Ia juga meneruskan
kembali pembangunan sebelumnya. Ia di bantu Rm. Padmo, SJ yang berkarya di
Stasi Ngaliyan
Dari para pastur diatas, merupakan para Pastur Kepala
Paroki Sukorejo yang disebut dengan Pastur Pembangunan.
Dari cerita sejarah Gereja Katolik Ngaliyan tersebut
yang panjang lebar, (pasti bosen
mbacanya... hahaha, gk jga tuh jika mau tau sejarahnya), ada lanjutannya
lagi tuh.... dengan judul Rm. Keneks, SJ dan Pengalaman Spiritualnya... supaya
gak penasaran dibuatnya, silahkan baca di blog selanjutnya....
![]() |
| TABERNAKEL |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar